Jumat, 12 Juli 2019

Dedikasi Taiyeb, Nelayan Penggagas Benteng Mangrove di Tongke-Tongke

Berdedikasi untuk negeri memang suatu hal yang tak mudah. Sebagai seorang nelayan, Taiyeb sudah membuktikannya. Beliau sudah membangun kawasan hijau yang dikenal dengan nama benteng mangrove di Desa Tongke-Tongke, Sinjai Timur, Sinjai, Sulawesi Selatan. Hingga kini, dedikasinya dalam penanaman mangrove mampu mencegah abrasi dan jadilah ekowisata nasional. 


Munculnya Gagasan Benteng Mangrove
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk berkontribusi memperbaiki negeri. Anda bisa mulai dengan perbuatan baik di tempat tinggal masing-masing. Hal ini seperti yang dicontohkan Taiyeb, seorang nelayan Desa Tongke-Tongke. Inisiatifnya membangun benteng mangrove, pantas diapresiasi. Gagasan benteng mangrove tersebut berupa jajaran pohon bakau rimbun sebagai pencegah abrasi.

Inisiatif yang benar-benar terwujud saat ini ternyata dilatarbelakangi oleh keresahannya akibat banjir rob yang sering menimpa daerah pantai. Hantaman ombak besar sampai menyapu bibir pantai. Taiyeb bertekad memperbaiki kondisi yang memprihatinkan ini sebelum terlambat. Beliau mengajak 17 warga desanya untuk menanam mangrove di sepanjang pantai Desa Tongke-Tongke.

Proses Penanaman Mangrove
Berbekal pengetahuan praktisnya, Taiyeb melakukan penanaman mangrove tersebut. Penghijauan pesisir yang dilakukan dengan serius ini mampu mengurangi dampak akibat abrasi. Sebelum terkenal sebagai ekowisata seperti sekarang ini, pesisir Tongke-Tongke belum menjadi hutan mangrove di sepanjang pantai.

Berkat kegigihan Taiyeb bersama warga desa lainnya, jadilah ekowisata seperti saat ini. Pengorbanan tersebut memang tulus dan sama sekali tidak mengharapkan penghargaan atau imbalan. Taiyeb sebagai penggagas pergerakan tersebut hanya ingin wilayah tempat tinggalnya aman dan aktivitas yang ada di area tersebut tetap aman.

Penanaman swadaya tersebut diadakan saat air laut surut agar tidak sulit mengatur. Kondisi rawan anakan mangrove adalah pada usia 2 tahun. Pada masa itu, tingginya mencapai 1 meter, namun belum tumbuh akar samping untuk penyangga batang utama. Untuk itu, perlu pengawasan ketat pada masa itu. Ketika sudah berusia 4 tahun, pertumbuhannya sudah aman.

Bagi mangrove yang mati, langsung diganti dengan penanaman bibit mangrove yang baru. Jadi, setiap kali ada yang mati, langsung dilakukan sistem penanaman kembali. Taiyeb mengaku penanaman mangrove ini dilakukan sendiri secara otodidak. Sepak terjangnya sudah membuahkan hasil 4 tahun kemudian. Kiprahnya di dunia lingkungan ini sangat membantu mencegah abrasi.

Tokoh yang sungguh mulia ini pantas mendapatkan penghargaan berupa hadiah kompetisi Blog Berlipatnya Berkah dari Allianz. Lewat asuransi wakaf ini dapat menyalurkan dananya sebagai bantuan dana kepada Taiyeb untuk meningkatkan konservasi alam di daerah pantai. Gagasan benteng mangrove bisa terus dilestarikan dan ditingkatkan agar lebih baik lagi.

Perjuangan Taiyeb dalam membangun benteng mangrove tersebut sungguh mulia. Secara sukarela, beliau sudah tergerak berperan memperbaiki kondisi tempat tinggalnya. Asuransi wakaf Allianz dapat membantu membangun ekowisata mangrove pencegah abrasi di kawasan pantai daerah Tongke-Tongke tersebut. Warga pesisir dapat hidup dengan tenang kembali.

1 komentar: