Senin, 31 Desember 2018

Apa Resiko Pinjaman Online ?

Satu tahun terakhir, pinjaman online memang mulai menjamur dan menjadi primadona dalam dunia keuangan di Indonesia. Layanan berbasis fintech atau financial technolgy yang mengedepankan kemudahan bertransaksi kredit menjadi keunggulan, apalagi bagi para calon kreditur yang tidak ingin dipersulit oleh urusan di bank. Tinggal unduh aplikasinya di ponsel pintar berbasis Android atau buka situs layanan terkait, proses kredit dapat diajukan dengan berbagai produk yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Pinjaman Online

Tapi sebelum tergiur untuk menjadi nasabah dari pinjaman jenis ini, ada baiknya perhatikan hal-hal berikut ini, ya!

Plafon pinjaman tergolong kecil

Risiko yang ada pada pinjaman tanpa agunan adalah besarannya tentu tidak mungkin besar. Paling tidak berkisar antara 1-5 juta Rupiah, itu pun dengan sejumlah syarat yang berlaku. Hal ini dikarenakan tidak ada agunan yang jadi jaminan, sehingga nasabah tidak dapat mengambil pinjaman dalam jumlah yang besar. Kalau mau pinjaman lebih besar, tentu harus mengajukan pinjaman ke bank.

Akses data pribadi nasabah lewat aplikasi

Data pribadi ini didapatkan perusahaan penyedia jasa pinjaman melalui aplikasi yang diunduh. Di mana yang bersangkutan harus meng-install aplikasi pinjaman di ponsel pintarnya, sebelum dapat mengajukan pinjaman yang diinginkan. 

Namun, risikonya tentu saja adalah ekspos data pribadi yang secara tidak sadar sudah disetujui oleh si nasabah. Seperti kontak dan data pribadi lainnya yang tersimpan di ponselnya. Apalagi saat ini belum ada aturan hukum yang melarang hal tersebut, selama dilakukan oleh yang bersangkutan selaku pemilik ponsel.

Tingkat bunga tinggi

Dalam beberapa iklannya di berbagai platform, nasabah kerap tergiur dengan tawaran bunga yang sangat rendah, yakni kurang dari 1 persen. Padahal, aslinya bunga yang ditetapkan juga tinggi karena tergantung dari besaran jaminan yang anda ajukan. 

Ditambah lagi, hingga saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku pengawas lembaga keuangan belum sama sekali mengatur besaran batasan bunga yang berlaku bagi pinjaman online. Hal ini akhirnya berimbas pada besaran bunga yang cukup tinggi yang ditanggung nasabah, dengan alasan besarnya risiko yang ditanggung oleh perusahaan tersebut. 

Lamanya persetujuan pinjaman

Salah satu yang membuat nasabah juga tergiur adalah iming-iming waktu pencairan pinjaman yang sangat cepat dibandingkan bank atau lembaga keuangan lainnya. Benarkah?

Faktanya, persetujuan untuk pinjaman anda kadang memerlukan waktu hingga 1 minggu lamanya atau bahkan tidak ada respon sama sekali. Hal ini bisa dilihat dari komentar-komentar di Play Store di laman aplikasi yang akan digunakan untuk pengajuan pinjaman. Banyaknya pengajuan yang diterima perusahaan juga mengakibatkan lambannya proses tersebut disetujui, dan menimbulkan keluhan dari banyak penggunanya.

Ditagih ala rentenir

Rasanya sudah menjadi rahasia umum, jika pengguna pinjaman onine akan ditagih dengan cara yang tidak manusiawi bahkan terkesan ancaman. Cara ini sangat mirip dengan yang dilakukan rentenir, yang sering anda lihat di tayangan televisi. Teror melalui telepon, pesan singkat ke seluruh daftar kontak yang nasabah milik, hingga didatangi secara langsung ke rumah, menjadi hal-hal yang akan anda alami. Meskipun baru terlambat satu hari karena berbagai masalah, hal tersebut tidak dapat ditoleransi oleh pihak penyedia jasa pinjaman berbasis teknologi tersebut. 

Risiko itu tentunya tak semuanya akan dialami oleh nasabah. Jika pintar memilih perusahaan layanan kredit yang tepat, tentu kemudahan akan dinikmati. Namun jika salah, justru berujung pada kerugian yang besar. Khususnya terkait data pribadi yang diakses dengan mudah oleh pengembang aplikasi. Bukan tidak mungkin informasi pribadi kita yang diberikan justru akan menjadi bumerang di kemudian hari. 

Lebih parahnya lagi, rupanya belum semua perusahaan layanan pinjaman online mendapatkan sertifikat atau diakui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI selaku pengawas lembaga keuangan di negara ini. Jika tak masuk dalam daftar, bisa dipastikan perusahaan penyedia jasa ini dikatakan ilegal dan tidak dapat dipertanggungjawabkan jika ada kerugian yang diderita oleh nasabah. Tak mau semakin rugi kan?

Berdasarkan data yang dirilis, saat ini baru ada 64 perusahaan keuangan berbasis teknologi atau fintech yang terdaftar di OJK, per 8 Juni 2018 lalu. Hingga saat ini belum ada satu pun penambahan fintech resmi yang diakui OJK, yang tentunya mengindikasikan masih banyaknya perusahaan pinjaman tak berizin dan berisiko merugikan nasabahnya. Sedangkan jika tidak terdaftar, OJK tentu tidak dapat memberikan sanksi kepada perusahaan tersebut. Lagi-lagi, nasabah yang akan menanggung risiko tinggi.

Untuk memastikan legalitas perusahaan pinjaman berbasis teknologi itu, anda selaku nasabah dapat melakukan pengecekan daftar fintech yang sudah diakui oleh OJK, melalui situs resminya. Jika perusahaan yang anda ingin lakukan pengajuan tidak terdaftar dalam 64 buah perusahaan itu, dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan memang bodong dan anda tidak dapat menagih pertanggungjawaban jika timbul kerugian materiil atau bahkan immateriil saat bertransaksi. 

Sebagai calon nasabah, tentunya harus lebih jeli lagi dalam menentukan perusahaan penyedia jasa pinjaman mana yang akan anda gunakan. Jika tidak terdaftar atau dinilai meragukan, lebih baik pilih lembaga keuangan atau perbankan yang memang sudah resmi. Seperti yang ditawarkan oleh https://www.cekaja.com/kredit/pinjaman-online, yang memberikan kemudahan bertransaksi pengajuan kredit tanpa harus ribet dengan segala urusan. Apalagi layanan ini juga sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat karena produknya yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Mau kredit rumah? Bisa. Kredit kendaraan bermotor? Gampang. Semua tinggal pilih. Gimana, sudah tergiur?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar